NEWS SUMMARY:
- Pemerintah pastikan harga BBM dan LPG subsidi tidak naik meski konflik Timur Tengah memicu ketidakpastian energi global
- Stok energi nasional aman jangka pendek dengan cadangan BBM 20 hari dan LPG 10 hari ke depan
- Pemerintah dorong swasembada energi dengan optimalkan sumber daya alam dan kurangi impor bertahap
BISNIS24JAM.COM - Benarkah Indonesia mampu menahan gejolak harga energi global tanpa menaikkan BBM subsidi?
Ataukah tekanan impor energi justru menjadi bom waktu bagi kebijakan harga domestik?
Komitmen Pemerintah Menahan Harga BBM di Tengah Tekanan Global
Pemerintah memastikan harga BBM dan LPG subsidi tetap stabil meskipun konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasar energi global.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Pemerintah berupaya agar harga BBM dan LPG subsidi di Indonesia tidak mengalami kenaikan dan kami terus mencari jalan keluar,” ujar Bahlil.
Keputusan ini menjadi perhatian karena harga energi global cenderung fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir.
Konsumsi Energi Tinggi Jadi Tantangan Serius Ketahanan Nasional
Konsumsi BBM Indonesia mencapai sekitar 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari, menunjukkan tingginya kebutuhan energi domestik.
Pada 2026, konsumsi bensin diperkirakan sekitar 100 ribu kiloliter per hari, sedangkan solar mencapai 111 ribu kiloliter per hari.
Namun produksi dalam negeri masih terbatas di kisaran 600 ribu barel per hari, sehingga ketergantungan impor sulit dihindari.
Baca Juga: Satgas PKH Jadi Kunci Selamatkan Aset Negara dan Cegah Kebocoran Keuangan dari Aktivitas Ilegal
Kondisi ini membuat kebijakan harga energi menjadi sangat sensitif terhadap perubahan global.
Upaya Pemerintah Perkuat Produksi Dalam Negeri dan Efisiensi Energi
Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi energi domestik guna mengurangi ketergantungan pada impor.