NEWS SUMMARY:
- Konsumsi domestik menyumbang 54 persen PDB, menjadi penopang utama ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global
- Pemerintah mencatat swasembada beras dengan produksi 34,7 juta ton dan stok tertinggi sepanjang sejarah nasional
- Rasio utang 40,46 persen terhadap PDB dan dominasi utang domestik menjaga risiko eksternal tetap terkendali
BISNIS24JAM.COM - Apakah ekonomi Indonesia benar-benar kebal dari ancaman resesi global saat ini?
Mengapa indikator makro menunjukkan ketahanan, meski tekanan dunia terus meningkat signifikan?
Ekonomi Indonesia Tumbuh Stabil di Tengah Tekanan Global yang Berlanjut
Ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan kuat di tengah ketidakpastian global dengan pertumbuhan mencapai 5,11 persen pada 2025, tertinggi kedua di kelompok G20 setelah India.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menegaskan kondisi ini jauh berbeda dibanding krisis 1998 yang ditandai instabilitas makro ekonomi.
Ia menyampaikan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat mencapai kisaran 5,3 persen, bahkan kuartal I 2026 diproyeksikan menyentuh 5,5 persen.
Proyeksi tersebut melampaui rata-rata pertumbuhan global yang diperkirakan hanya berada di kisaran 2,6 hingga 3,3 persen menurut lembaga internasional.
Baca Juga: Perdagangan Indonesia Rusia Naik 12 Persen, BRICS Jadi Katalis Kerja Sama Ekonomi Baru Global
Fundamental Domestik Kuat Jadi Penopang Utama Stabilitas Ekonomi Nasional
Kekuatan ekonomi domestik menjadi faktor utama ketahanan Indonesia dengan kontribusi konsumsi dalam negeri mencapai sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto.
Airlangga menjelaskan bahwa struktur ekonomi yang berbasis domestik membuat Indonesia relatif tahan terhadap guncangan eksternal dibanding negara lain.
Selain itu, stabilitas sektor pangan dan energi turut memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.
Pemerintah juga mencatat keberhasilan swasembada beras sejak 2025 dengan produksi mencapai 34,7 juta ton dan cadangan Bulog mencapai 4,6 juta ton.