bisnis

Serikat Buruh Ungkap Penyebab PHK Massal Jabar, Dari Impor Hingga Risiko Krisis Energi Industri

Jumat, 3 April 2026 | 09:44 WIB
Ilustrasi industri otomotif. Aktivitas pekerja di kawasan industri Karawang yang menjadi pusat produksi otomotif nasional sebelum gelombang PHK 2026 terjadi. (Dok. Kreasi Dola AI)

Ancaman Krisis Energi Bisa Picu PHK Lebih Besar Lagi

Selain faktor pasar, Sidarta mengingatkan potensi krisis energi dapat memperburuk kondisi ketenagakerjaan industri manufaktur di Jawa Barat.

Ia memperkirakan sekitar 70.000 pekerja berpotensi terdampak apabila gangguan pasokan energi terjadi dan menghambat operasional sektor industri strategis.

Baca Juga: Prabowo Bawa Investasi Rp575 Triliun dari Jepang dan Korea Selatan, Ini Dampaknya Bagi Ekonomi

Menurut dia, dampak tersebut tidak hanya mengenai industri otomotif tetapi juga sektor logam, elektronik, mesin, hingga pelaku usaha kecil menengah.

Sidarta menambahkan secara nasional potensi pekerja terdampak bisa mencapai 150.000 orang apabila krisis energi benar-benar terjadi.

Serikat Pekerja Dorong Hilirisasi untuk Selamatkan Lapangan Kerja Industri

Serikat pekerja mendorong pemerintah memperkuat kebijakan hilirisasi industri sebagai strategi menjaga keberlanjutan lapangan kerja sektor manufaktur nasional.

Baca Juga: Anthony Budiawan Soroti Pentingnya Kritik Pengamat Ekonomi Sebagai Early Warning System Stabilitas Ekonomi

Sidarta mengatakan pembatasan impor produk yang sudah bisa diproduksi dalam negeri menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi tenaga kerja domestik.

Menurut dia, prioritas penggunaan produk dalam negeri akan membantu menjaga stabilitas produksi sekaligus membuka peluang penyerapan tenaga kerja baru.

Ia berharap kebijakan industrialisasi nasional mampu menekan PHK sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan industri jangka panjang Indonesia.

Baca Juga: Mulai April ASN WFH Sepekan Sekali, Pemerintah Harap Konsumsi BBM dan Kemacetan Kota Besar Turun

Sebagai informasi, isu PHK sektor manufaktur sebelumnya juga menjadi perhatian berbagai media nasional sepanjang 2025 seiring perlambatan ekonomi global dan perubahan rantai pasok industri.****

Halaman:

Tags

Terkini