NEWS SUMMARY:
- Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM optimistis target investasi awal 2026 tercapai meski kondisi global tidak stabil.
- Diplomasi ekonomi Presiden Prabowo Subianto dinilai memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
- Distribusi investasi terbesar berada di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Banten
BISNIS24JAM.COM - Apakah lonjakan investasi Indonesia di awal 2026 menandakan kepercayaan global yang semakin kuat?
Bisakah stabilitas politik dan strategi hilirisasi benar-benar menjadi magnet utama investor di tengah gejolak geopolitik dunia?
Strategi Hilirisasi Dorong Lonjakan Investasi Awal Tahun Indonesia Terkini
Realisasi investasi Indonesia pada Triwulan I 2026 diproyeksikan mencapai Rp497 triliun atau tumbuh 6,9 persen secara tahunan menurut Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Baca Juga: Dari Kasus Ilegal Hingga Lelang Triliunan, Ini Perjalanan Kapal MT Arman 114 yang Disita Negara
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menyampaikan proyeksi tersebut dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Rosan Roeslani menyatakan target ini optimistis tercapai setelah mempertimbangkan perkembangan investasi hingga pertengahan April 2026 yang menunjukkan tren positif.
Serapan Tenaga Kerja Meningkat Seiring Realisasi Investasi Nasional
Realisasi investasi Rp497 triliun tersebut diperkirakan menyerap sekitar 627 ribu tenaga kerja baru sepanjang Januari hingga Maret 2026.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 5,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat 594 ribu tenaga kerja terserap.
Rosan Roeslani menegaskan peningkatan serapan tenaga kerja menjadi indikator penting keberhasilan investasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Sektor Industri Logam Dasar Dominasi Investasi Nasional Triwulan Awal
Investasi terbesar tercatat pada sektor industri logam dasar dengan nilai mencapai Rp67 triliun sepanjang Triwulan I 2026.
Baca Juga: Selat Hormuz Jadi Kunci Harga Energi Dunia Konflik Berkepanjangan Picu Lonjakan Biaya dan Industri
Sektor transportasi, pergudangan, dan logistik menyusul dengan Rp54 triliun, diikuti pertambangan Rp51 triliun dan jasa pusat data Rp43 triliun.
Artikel Terkait
ASEAN Perkuat Jaring Pengaman Keuangan Kawasan untuk Antisipasi Krisis Global dan Volatilitas Ekonomi
Rusia Dukung Indonesia Masuk BRICS, Ini Strategi Baru Indinesia Hadapi Persaingan Ekonomi Global
Masuk BRICS, Indonesia Perkuat Posisi Global dan Buka Peluang Kerja Sama Ekonomi dengan Rusia
Airlangga Ungkap Rahasia Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh di Tengah Ketidakpastian Global dan Krisis Dunia
Reformasi Pasar Modal Indonesia Makin Ketat OJK Perkuat Aturan Demi Kepercayaan Investor Dan Stabilitas
Dari Kasus Ilegal Hingga Lelang Triliunan, Ini Perjalanan Kapal MT Arman 114 yang Disita Negara
Blokade Selat Hormuz Picu Krisis Energi IMF Sebut Harga Global Tak Mudah Turun Meski Damai
IMF Ungkap Dampak Asimetris Konflik Iran Harga Global Diprediksi Sulit Turun Dalam Waktu Lama
Selat Hormuz Jadi Kunci Harga Energi Dunia Konflik Berkepanjangan Picu Lonjakan Biaya dan Industri
Distribusi Energi Terganggu, Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak dalam Beberapa Pekan Mendatang