Lonjakan Harga Minyak Global Picu Risiko Krisis Energi Regional
Harga minyak dunia yang meningkat akibat konflik geopolitik memperbesar risiko krisis energi di kawasan Asia termasuk Indonesia.
Sejumlah laporan media sebelumnya menyebut Filipina menghadapi tekanan energi akibat kenaikan harga impor bahan bakar.
Didik J Rachbini mengatakan Indonesia harus belajar dari pengalaman negara lain dalam mengantisipasi risiko tersebut.
Ia menilai ketergantungan pada energi impor berpotensi meningkatkan kerentanan ekonomi jika harga global terus bergejolak.
Percepatan Elektrifikasi Transportasi Jadi Agenda Strategis Pemerintah Indonesia Kedepan
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan rencana percepatan konversi kendaraan listrik sebagai bagian strategi transformasi energi nasional.
Program tersebut mencakup kendaraan roda dua, mobil pribadi, hingga kendaraan logistik secara bertahap.
Didik J Rachbini menilai kebijakan ini sejalan dengan kebutuhan memperkuat ketahanan energi nasional.
Ia menyebut keberhasilan program sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur dan konsistensi kebijakan pemerintah.
Baca Juga: Data Terbaru Stok Beras dan Komoditas Strategis Tunjukkan Tren Positif Ketahanan Pangan Nasional
Transisi Energi Hijau Jadi Langkah Antisipasi Ketidakpastian Ekonomi Global
Krisis iklim dan konflik global membuat transisi energi hijau semakin mendesak dilakukan berbagai negara termasuk Indonesia.
Didik J Rachbini mengatakan transisi energi merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Ia menegaskan keterlambatan transisi energi dapat meningkatkan risiko tekanan fiskal akibat subsidi energi yang tidak terkendali.
Baca Juga: TNI AL Siapkan Awak Kapal Induk Pertam, Fokus Pelatihan Teknologi dan Operasi Maritim Terpadu Modern