NEWS SUMMARY:
- Perbedaan pandangan ekonomi dinilai wajar dan penting untuk memperkaya kebijakan publik dalam menghadapi ketidakpastian global saat ini.
- IMF merevisi proyeksi ekonomi Indonesia menjadi 4,8 persen seiring meningkatnya risiko perlambatan ekonomi dunia akibat konflik energi.
- Anthony Budiawan menekankan pentingnya kebijakan adaptif berbasis risiko untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia 2026.
BISNSI24JAM.COM - Seberapa siap ekonomi Indonesia menghadapi potensi badai global jika indikator positif hanya bersifat sementara?
Apakah kritik pengamat justru menjadi alarm penting sebelum tekanan ekonomi benar-benar terjadi?
Ketidakpastian ekonomi global akibat konflik Iran kembali memunculkan perdebatan mengenai ketahanan ekonomi Indonesia serta efektivitas indikator ekonomi jangka pendek.
Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan, menyatakan pandangan kritis pengamat ekonomi seharusnya dilihat sebagai early warning system kebijakan nasional.
Ia menilai pendekatan antisipatif penting agar risiko pelebaran defisit fiskal, tekanan rupiah, dan capital outflow dapat dikelola sejak dini.
Fungsi Kritik Ekonomi Sebagai Sistem Peringatan Dini Kebijakan Nasional
Anthony Budiawan mengatakan kritik pengamat merupakan bagian penting dari mekanisme kontrol publik terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Ia menjelaskan prediksi risiko ekonomi bertujuan mencegah dampak lebih besar melalui perbaikan kebijakan sejak tahap awal.
Menurut dia, negara dengan kebijakan adaptif biasanya justru aktif menyerap masukan akademisi dan praktisi ekonomi.
Risiko Depresiasi Rupiah dan Arus Modal Keluar Investor Global
Anthony Budiawan menilai konflik geopolitik meningkatkan kecenderungan investor global memindahkan dana menuju aset safe haven yang dianggap lebih aman.
Ia menyebut kondisi ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah serta meningkatkan biaya pembiayaan fiskal nasional.