ekonomi

IHSG Dan Rupiah Tidak Sinkron Dengan Global, Investor Diminta Waspada Perubahan Arah Pasar Keuangan

Selasa, 14 April 2026 | 09:20 WIB
Pergerakan IHSG mencerminkan fase selektif di tengah perubahan rezim pasar global (Dok. Idx.co.id)

Ketidaksinkronan ini sering menjadi tanda awal tekanan yang lebih panjang jika faktor eksternal tidak berubah.

Baca Juga: Harga BBM Subsidi Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global, Ini Fakta Konsumsi Dan Impor Energi Indonesia

Revisi Pertumbuhan Ekonomi Tambah Tekanan Fundamental Domestik

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang direvisi menjadi 4,7 persen turut memperkuat kekhawatiran pasar.

Menurut Kusfiardi, revisi ini menunjukkan tekanan eksternal mulai merembes ke fundamental domestik.

“Tekanan ini akan berdampak pada inflasi, daya beli, dan ekspektasi laba korporasi,” ujarnya.

Baca Juga: Isu Chaos Indonesia Mencuat, Pemerintah Tegaskan Kondisi Aman dengan Data Ekonomi dan Stabilitas Sosial

Hal tersebut menambah lapisan risiko bagi investor yang sebelumnya berharap pemulihan lebih cepat.

Situasi ini memperkuat narasi bahwa tantangan ekonomi tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga mulai terasa di dalam negeri.

Perubahan Rezim Pasar Menuju Fase Selektif dan Taktis

Kusfiardi menegaskan bahwa pasar kini tidak lagi berada dalam fase broad-based rally.

Baca Juga: Jamie Dimon Peringatkan Investor Soal Dampak Konflik Iran Terhadap Ekonomi Global dan Suku Bunga Dunia

Pergerakan saham menjadi sangat selektif dan bergantung pada sensitivitas terhadap suku bunga, nilai tukar, dan harga komoditas.

“Pasar telah masuk fase stock picker’s market, bukan lagi kenaikan bersama-sama,” jelasnya.

Sektor berbasis komoditas dan pendapatan Dolar AS dinilai lebih defensif dalam menghadapi tekanan global.

Baca Juga: Satgas PKH Jadi Kunci Selamatkan Aset Negara dan Cegah Kebocoran Keuangan dari Aktivitas Ilegal

Sebaliknya, sektor yang sensitif terhadap likuiditas diperkirakan tetap tertekan dalam jangka pendek.

Halaman:

Tags

Terkini