internasional

Prediksi Harga Minyak Global dan Risiko Resesi Dunia, Ini Analisis Lengkap dari CEO BlackRock Terbaru

Kamis, 26 Maret 2026 | 08:45 WIB
CEO BlackRock, Larry Fink. Industri manufaktur berpotensi terdampak kenaikan biaya energi akibat lonjakan harga minyak dunia. (Dok. Blackrock.com)

NEWS SUMMARY:

  • Kenaikan harga minyak global berpotensi meningkatkan biaya logistik dan memicu inflasi pangan dunia secara bertahap.
  • Industri manufaktur menghadapi kenaikan biaya produksi yang berpotensi menekan margin dan memperlambat ekspansi usaha global.
  • Stabilitas harga energi menjadi faktor penting menjaga pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan investor pasar keuangan global.

BISNIS24JAM.COM - Jika harga minyak melonjak ke level ekstrem, apakah dampaknya hanya terasa di pasar energi global?

Atau justru akan langsung memukul biaya hidup, harga pangan, dan stabilitas ekonomi masyarakat produktif dunia?

Peringatan CEO Larry Fink dari korporasi investasi global BlackRock mengenai potensi harga minyak 150 Dolar AS memicu perhatian pelaku pasar.

Baca Juga: Mentan Pastikan Cadangan Beras 28 Juta Ton, Ketahanan Pangan Semakin Kuat Jelang Lebaran 2026

Ia menilai lonjakan biaya energi berpotensi menciptakan efek domino terhadap sektor transportasi, manufaktur, hingga konsumsi rumah tangga global.

Lonjakan Harga Minyak Bisa Picu Kenaikan Biaya Hidup Global

Larry Fink menyebut harga minyak yang tinggi akan meningkatkan biaya logistik dan transportasi yang akhirnya mendorong kenaikan harga barang konsumsi.

Kenaikan biaya distribusi dinilai dapat memicu inflasi pangan global karena rantai pasok sangat bergantung pada energi fosil.

Baca Juga: Cadangan Pangan Melimpah Hingga 11 Bulan, Pemerintah Siap Hadapi Lonjakan Konsumsi Idulfitri 2026

Kondisi ini dinilai paling terasa bagi kelompok usia produktif yang memiliki pengeluaran rutin tinggi dan sensitif terhadap inflasi.

Industri Manufaktur Hadapi Tekanan Biaya Produksi dan Margin Usaha

Harga energi yang mahal berpotensi meningkatkan biaya bahan baku dan operasional industri menurut analisis Fink.

Kenaikan biaya produksi dapat menekan margin keuntungan korporasi sehingga berpotensi menahan ekspansi bisnis dan perekrutan tenaga kerja.

Baca Juga: Target Besar Prabowo Hingga 2029 dari MBG hingga Hilirisasi Industri, Ini Dampaknya Bagi Rakyat Indonesia

Risiko tersebut dapat memperlambat pertumbuhan sektor industri yang menjadi penggerak utama ekonomi global.

Halaman:

Tags

Terkini