• Sabtu, 18 April 2026

Daftar Terkini Forbes 2026: 6 Sektor Penopang untuk Masuk Kelompok 10 Orang Terkaya Indonesia

Photo Author
Tim 24 Jam News, Bisnis 24 Jam
- Selasa, 13 Januari 2026 | 16:45 WIB
Pengusaha asal daerah kembali mencuri perhatian di daftar Forbes Indonesia awal 2026.
Pengusaha asal daerah kembali mencuri perhatian di daftar Forbes Indonesia awal 2026.

BISNIS 24 JAM - Apakah pergeseran kekayaan konglomerat Indonesia di awal 2026 sekadar fluktuasi pasar, atau sinyal perubahan peta bisnis nasional?

Mengapa pengusaha asal Jember justru mampu menyalip tokoh pusat data yang dijuluki Bill Gates Indonesia?

Forbes Awal Tahun Ungkap Pergeseran Kekayaan Nasional

Forbes merilis daftar orang terkaya Indonesia per 1 Januari 2026 yang menunjukkan perubahan peringkat akibat dinamika nilai saham dan kinerja korporasi sepanjang akhir 2025.

Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Dorong Pembenahan BUMN: Integritas Direksi Jadi Kunci Perbaikan Kinerja

Haryanto Tjiptodiharjo, Direktur Utama PT Impack Pratama Industri Tbk, naik ke peringkat enam dengan kekayaan Dolar AS 8,9 miliar atau sekitar Rp 148 triliun.

Posisi tersebut menggeser Otto Toto Sugiri, pendiri korporasi pusat data DCI Indonesia, yang turun ke peringkat tujuh dengan kekayaan Dolar AS 8,7 miliar.

Konglomerat Jember Naik Berkat Lonjakan Nilai Saham

Forbes mencatat lonjakan kekayaan Haryanto Tjiptodiharjo berasal dari peningkatan kinerja saham Impack Pratama Industri pada kuartal akhir 2025.

Baca Juga: RDMP Kilang Balikpapan Beroperasi, Impor Solar Dihentikan dan Surplus 4 Juta Kiloliter Diproyeksikan 2026

Dalam keterangannya di situs resmi korporasi, Haryanto menyebut fokus efisiensi dan ekspansi regional menopang pertumbuhan kinerja keuangan korporasi.

“Strategi diversifikasi produk dan penguatan pasar domestik menjadi prioritas kami menghadapi volatilitas global,” ujar Haryanto Tjiptodiharjo, Direktur Utama PT Impack Pratama Industri Tbk.

Fluktuasi Pasar Tekan Kekayaan Korporasi Pusat Data

Otto Toto Sugiri mengalami koreksi kekayaan seiring pergerakan harga saham sektor pusat data yang sensitif terhadap suku bunga global.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen, Mengapa Pengangguran Tertinggi di ASEAN? Ini Penjelasan Strukturalnya

Dalam laporan tahunan di laman resmi DCI Indonesia, manajemen menyebut tekanan biaya energi dan investasi infrastruktur menjadi tantangan sepanjang semester kedua 2025.

Namun, Otto Toto Sugiri tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu pionir ekosistem pusat data nasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X