NEWS SUMMARY:
- Anthony Budiawan menyebut struktur ekonomi Indonesia masih lemah sehingga berpotensi memengaruhi stabilitas rupiah jangka panjang.
- Penurunan cadangan devisa 4,6 miliar Dolar AS awal 2026 terjadi bersamaan pelemahan nilai tukar rupiah.
- Risiko global dan perubahan sentimen investor dinilai dapat mempercepat arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia.
BISNIS24JAM.COM - Apakah rupiah benar-benar aman seperti klaim otoritas ekonomi selama ini?
Mengapa cadangan devisa besar justru dinilai belum cukup menjamin ketahanan nilai tukar Indonesia?
Fundamental Ekonomi Indonesia Dipertanyakan di Tengah Tekanan Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS pada awal 2026, meskipun pemerintah dan Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi tetap kuat.
Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan, menyatakan struktur ekonomi Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar yang berpotensi melemahkan stabilitas rupiah dalam jangka panjang.
Anthony Budiawan mengatakan fundamental nilai tukar rupiah rapuh karena indikator struktural ekonomi, termasuk kemiskinan, defisit eksternal, serta ketergantungan pembiayaan utang luar negeri masih tinggi.
Cadangan Devisa Besar Belum Tentu Cerminkan Kekuatan Fundamental Ekonomi Nasional
Cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar 150 miliar Dolar AS per akhir Februari 2026, yang sering diklaim sebagai indikator ketahanan ekonomi nasional.
Baca Juga: Rencana Impor 105000 Kendaraan Koperasi Merah Putih Picu Pertanyaan Efektivitas Investasi Danantara
Namun Anthony Budiawan menilai cadangan devisa tersebut tidak berasal dari surplus transaksi berjalan, melainkan terbentuk di tengah defisit transaksi berjalan lebih dari 113 miliar Dolar AS periode 2015–2025.
Anthony Budiawan menegaskan kondisi tersebut menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia masih lemah karena cadangan devisa lebih banyak ditopang pembiayaan utang luar negeri sektor publik.
Lonjakan Utang Luar Negeri Dinilai Jadi Risiko Stabilitas Rupiah
Data PEPS menunjukkan cadangan devisa hanya naik sekitar 44,6 miliar Dolar AS sepanjang 2014–2025, sementara utang luar negeri meningkat hingga 139,6 miliar Dolar AS.
Baca Juga: Rencana Impor 105000 Kendaraan Koperasi Merah Putih Picu Pertanyaan Efektivitas Investasi Danantara
Anthony Budiawan menjelaskan sekitar 78 persen peningkatan utang berasal dari sektor publik termasuk pemerintah dan otoritas moneter yang menopang stabilitas nilai tukar.
Artikel Terkait
Rencana Impor 105000 Kendaraan Koperasi Merah Putih Picu Pertanyaan Efektivitas Investasi Danantara
Kiprah Michael Bambang Hartono, Dari Krisis Djarum Hingga Sukses Bangun Korporasi Perbankan Digital
Penyiraman Aktivis KontraS Disebut Terorisme, Prabowo Perintahkan Aparat Bongkar Hingga Aktor Utama
Kasus Kekerasan Aktivis Andrie Yunus, Prabowo Pastikan Hadir Lindungi Kebebasan Sipil dan Hak Warga
Board of Peace Jadi Jalur Baru Diplomasi Indonesia untuk Palestina, Ini Strategi Luar Negeri Prabowo
Indonesia Siap Keluar dari Board of Peace Jika Tak Untungkan Palestina, Ini Penegasan Prabowo Subianto
Efisiensi APBN Era Prabowo, Belanja Seremonial dan Perjalanan Dinas Dipangkas Demi Produktivitas
Prabowo Ungkap Potensi Pemborosan 30 Persen APBN, Reformasi Belanja Negara Jadi Fokus Kebijakan Fiskal
Dampak Krisis Energi Sri Lanka Terhadap Pariwisata, Harga BBM dan Stabilitas Ekonomi Nasional 2026
Makna Pertemuan Prabowo dan Megawati: Silaturahmi Politik Elite untuk Stabilitas Nasional Menjelang Lebaran