Risiko Resesi Rendah dan Defisit Fiskal Tetap Terkendali Nasional
Berdasarkan laporan Bloomberg, probabilitas Indonesia mengalami resesi hanya sekitar 5 persen, jauh lebih rendah dibanding negara besar seperti Amerika Serikat dan Jepang.
Defisit anggaran Indonesia tetap terjaga di bawah 3 persen, lebih rendah dibanding India 4 persen, Prancis 4,4 persen, dan Amerika Serikat 6,3 persen.
Baca Juga: Keanggotaan BRICS Jadi Momentum Indonesia Perkuat Diplomasi Ekonomi dan Pengaruh Global
Airlangga menegaskan bahwa disiplin fiskal menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Cadangan devisa Indonesia juga tercatat sebesar Dolar AS 148,2 miliar atau setara dengan enam bulan impor, mencerminkan ketahanan eksternal yang kuat.
Kinerja Sosial Ekonomi Membaik di Tengah Stabilitas Makro Nasional
Pemerintah mencatat penurunan tingkat kemiskinan hingga 8,25 persen serta penurunan tingkat pengangguran menjadi 4,7 persen.
Baca Juga: Kemenkeu Percepat Reformasi Pajak Lewat Mutasi Pegawai dan Penegakan Hukum Tanpa Kompromi
Rasio ketimpangan juga menurun menjadi 0,363, menunjukkan distribusi ekonomi yang semakin merata di tengah pertumbuhan yang stabil.
Penerimaan pajak hingga Maret 2026 mencapai Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen secara tahunan, memperkuat kapasitas fiskal negara.
Airlangga menambahkan bahwa APBN berperan sebagai shock absorber melalui berbagai program bantuan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat.
Baca Juga: Rotasi Pimpinan DJP dan Bea Cukai Jadi Langkah Strategis Kemenkeu Perkuat Pengawasan Internal
Struktur Utang Aman dan Risiko Eksternal Tetap Terkendali Nasional
Rasio utang pemerintah tercatat sebesar 40,46 persen terhadap PDB atau senilai Rp9.637,9 triliun, masih dalam batas aman.
Sebagian besar utang berasal dari dalam negeri, sehingga risiko terhadap gejolak eksternal relatif rendah dan lebih terkendali.
Kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara hanya 12,6 persen, menunjukkan ketergantungan terhadap investor global semakin berkurang.
Baca Juga: Harga Energi Global Naik, DPR Nilai Subsidi BBM Masih Penting Jaga Ekonomi Dan Daya Beli
Artikel Terkait
Putin Tawarkan Mediasi Timur Tengah Setelah Kebuntuan Negosiasi Iran dan AS Memicu Kekhawatiran
Kegagalan Negosiasi AS - Iran Jadi Sinyal Bahaya, Indonesia Diminta Perkuat Strategi Hadapi Dampak Global
IHSG Dan Rupiah Tidak Sinkron Dengan Global, Investor Diminta Waspada Perubahan Arah Pasar Keuangan
Rotasi Pimpinan DJP dan Bea Cukai Jadi Langkah Strategis Kemenkeu Perkuat Pengawasan Internal
Kemenkeu Percepat Reformasi Pajak Lewat Mutasi Pegawai dan Penegakan Hukum Tanpa Kompromi
Tiga Strategi Utama ASEAN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Inklusif dan Stabilitas Kawasan di Tengah Tekanan Global
Keanggotaan BRICS Jadi Momentum Indonesia Perkuat Diplomasi Ekonomi dan Pengaruh Global
Perdagangan Indonesia Rusia Naik 12 Persen, BRICS Jadi Katalis Kerja Sama Ekonomi Baru Global
Ekonomi Indonesia Lebih Tahan Krisis Dibanding Negara Lain Karena Kemandirian Energi dan Ekspor Komoditas
Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Tumbuh Stabil, Ini Faktor Kunci Ketahanan Menurut Pemerintah