BISNIS24JAM.COM - Apakah lonjakan pembiayaan utang APBN 2026 menjadi penyelamat ekonomi atau justru bom waktu fiskal jangka panjang?
Mampukah pemerintah memastikan setiap rupiah utang Rp832,2 triliun benar-benar mendorong pertumbuhan produktif dan menjaga kepercayaan pasar global?
Keputusan pemerintah memperlebar pembiayaan utang dalam APBN 2026 hingga Rp832,2 triliun dinilai sebagai langkah darurat yang rasional namun sarat risiko fiskal jangka menengah.
Baca Juga: Realisasi Investasi Rp1.931 Triliun 2025 Dinilai Kunci Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai kebijakan fiskal ekspansif tersebut penting untuk menjaga momentum ekonomi di tengah tekanan global dan domestik yang belum sepenuhnya pulih.
Ia mengingatkan rasio utang pemerintah terhadap PDB telah mencapai 40,3 persen pada akhir 2025 dengan proyeksi tetap tinggi pada kisaran 39,9 hingga 40,3 persen sepanjang 2026.
Strategi Pembiayaan Utang APBN 2026 Perlu Perencanaan Jangka Panjang
Keputusan memperlebar pembiayaan utang dalam APBN 2026 dipandang sebagai langkah fiskal ekspansif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah perlambatan global.
Baca Juga: Alasan Papan Daur Ulang Plastik Jadi Tren Bangunan Ramah Lingkungan Pabrik Mini 2026
Menurut Noviardi, rasio utang di atas 40 persen terhadap PDB menjadi sinyal kewaspadaan yang harus direspons dengan strategi fiskal jangka panjang yang jelas.
Ia menegaskan utang boleh digunakan sebagai instrumen stabilisasi ekonomi, namun harus disertai arah kebijakan produktif agar tidak menciptakan tekanan fiskal berkelanjutan.
Rasio Utang Pemerintah Mendekati Batas Psikologis Pasar Keuangan Global
Rasio utang pemerintah terhadap PDB yang mencapai 40,3 persen pada 2025 dipandang masih aman secara hukum karena di bawah batas 60 persen.
Baca Juga: Optimisme Ekonomi 2026 Menguat, Kadin Tekankan Kunci Pertumbuhan dan Stabilitas Investasi Nasional
Namun, Noviardi menilai tren rasio utang yang bertahan di kisaran 39,9 hingga 40,3 persen pada 2026 harus menjadi perhatian serius pemerintah dan pasar.
“Rasio utang di level 40,3 persen seharusnya menjadi sinyal kewaspadaan tinggi meskipun masih di bawah batas aman 60 persen,” kata Noviardi dalam analisisnya.