NEWS SUMMARY:
- Indonesia berpotensi terdampak resesi global melalui perdagangan, sektor keuangan, serta perubahan ekspektasi pelaku pasar domestik.
- Reformasi fiskal menjaga rasio utang sekitar 38 hingga 40 persen PDB menjadi modal ketahanan menghadapi ketidakpastian global.
- Strategi antisipatif diperlukan agar Indonesia tetap tumbuh di tengah tekanan ekonomi global yang semakin kompleks.
BISNIS24JAM.COM - Apakah Indonesia benar-benar siap jika resesi global kembali menghantam ekonomi dunia seperti krisis sebelumnya?
Bagaimana dampaknya terhadap pekerjaan, investasi, dan daya beli masyarakat kelas produktif Indonesia saat ini?
Probabilitas Resesi Amerika Serikat Naik Jadi Alarm Ekonomi Global
Peningkatan probabilitas resesi Amerika Serikat mendekati 50 persen menjadi sinyal penting bagi ekonomi global karena selama ini indikator tersebut berkorelasi dengan perlambatan dunia.
Dr. Aswin Rivai, Pemerhati Ekonomi dan Dosen FEB-UPN Veteran Jakarta, mengatakan risiko tersebut meningkat tetapi belum sepenuhnya berada pada situasi peluang seimbang menurut pelaku pasar global.
Ia menjelaskan laporan Moody’s Analytics cenderung lebih pesimistis dibanding konsensus Wall Street, sementara Oxford Economics menilai resesi global bergantung lonjakan harga minyak hingga sekitar 140 Dolar AS.
Menurutnya, lonjakan harga energi tersebut harus berlangsung minimal dua bulan untuk memicu tekanan ekonomi global yang cukup kuat hingga mendorong resesi.
Baca Juga: Mengapa Saudi Aramco Kurangi Pasokan Minyak ke Asia Saat Permintaan Energi Mulai Pulih Kembali
Peran Timur Tengah dan Harga Energi dalam Stabilitas Ekonomi Dunia
Kawasan Timur Tengah menjadi faktor penting karena sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melewati Selat Hormuz yang sangat sensitif terhadap konflik geopolitik.
Dr. Aswin Rivai menyatakan gangguan distribusi energi global berpotensi langsung meningkatkan harga minyak, mendorong inflasi, menaikkan biaya produksi, serta menekan daya beli masyarakat dunia.
Ia menambahkan kondisi saat ini berbeda dibanding periode konflik sebelumnya karena inflasi global masih tinggi serta kebijakan suku bunga ketat memperlambat potensi pemulihan ekonomi.
Baca Juga: Produksi Batu Bara Naik, Jaga Pasokan Energi Dalam Negeri dan Peluang Ekspor Saat Harga Tinggi
Situasi tersebut menciptakan kombinasi tekanan energi, kebijakan moneter ketat, serta ketidakpastian geopolitik yang memperbesar risiko perlambatan ekonomi global.
Dampak Resesi Global Terhadap Ekspor dan Stabilitas Rupiah Indonesia
Indonesia berpotensi terdampak melalui jalur perdagangan karena sekitar 20 hingga 25 persen produk domestik bruto berkaitan langsung dengan aktivitas ekspor dan impor.