• Sabtu, 18 April 2026

Harga Minyak Berpotensi Sentuh 140 Dolar AS, Apakah Indonesia Siap Hadapi Risiko Resesi Global Tahun Ini

Photo Author
Tim 24 Jam News, Bisnis 24 Jam
- Selasa, 24 Maret 2026 | 15:23 WIB
ilusrasi ekonomi Indonesia. Aktivitas investor di pasar keuangan mencerminkan dinamika capital outflow saat ketidakpastian global meningkat. (Dok. Kreasi Dola AI)
ilusrasi ekonomi Indonesia. Aktivitas investor di pasar keuangan mencerminkan dinamika capital outflow saat ketidakpastian global meningkat. (Dok. Kreasi Dola AI)

Dr. Aswin Rivai menjelaskan komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel sangat bergantung pada permintaan global sehingga perlambatan ekonomi dunia biasanya menekan harga.

Baca Juga: 140 Juta Barel Minyak Iran Dilepas ke Pasar Global, Ini Dampaknya Terhadap Harga Minyak Dunia

Ia mencontohkan harga batu bara yang pernah melampaui 400 Dolar AS per ton pada 2022 kemudian turun tajam akibat melemahnya permintaan global.

Selain perdagangan, risiko juga datang dari sektor keuangan melalui capital outflow yang dapat melemahkan rupiah, meningkatkan biaya pinjaman, serta memicu volatilitas pasar saham domestik.

Konsumsi Domestik Jadi Penopang Utama Ketahanan Ekonomi Nasional Indonesia

Indonesia memiliki kekuatan struktural karena konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 52 hingga 55 persen produk domestik bruto nasional.

Baca Juga: Langkah Unik Papua Nugini Kurangi Konsumsi BBM Lewat WFH Rabu, Ini Dampak Ekonominya Bagi Industri

Dr. Aswin Rivai mengatakan selama daya beli masyarakat tetap terjaga maka ekonomi domestik memiliki bantalan kuat menghadapi tekanan eksternal.

Ia menambahkan rasio utang pemerintah sekitar 38 hingga 40 persen terhadap PDB masih relatif terkendali dibanding banyak negara lain.

Defisit fiskal juga kembali dijaga di bawah tiga persen setelah pandemi Covid-19 sehingga memberikan ruang stimulus jika perlambatan global terjadi.

Baca Juga: Polda Sumut Ungkap Modus Dugaan Fraud Dana Jemaat Rp28 Miliar, Mantan Kepala Kas BNI Jadi Tersangka

Strategi Pemerintah Mengantisipasi Risiko Perlambatan Ekonomi Global Secara Terukur Berkelanjutan

Menurut Dr. Aswin Rivai, pemerintah perlu menjaga defisit fiskal tetap terkendali namun fleksibel dalam merespons potensi krisis global.

Ia menyarankan reformasi subsidi energi melalui penyaluran tepat sasaran serta mekanisme penyesuaian otomatis untuk mengurangi tekanan fiskal saat harga minyak meningkat.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi valas, kebijakan suku bunga terukur, serta pendalaman pasar keuangan.

Baca Juga: Tambang Emas Ilegal Sumut Digerebek, 17 Tersangka Ditangkap, Aparat Fokus Usut Aktor Intelektual Kasus PETI

Selain itu, hilirisasi industri, diversifikasi ekspor, perlindungan daya beli, serta investasi pendidikan dan teknologi menjadi kunci ketahanan ekonomi jangka panjang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X