Dr. Aswin Rivai menjelaskan komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel sangat bergantung pada permintaan global sehingga perlambatan ekonomi dunia biasanya menekan harga.
Baca Juga: 140 Juta Barel Minyak Iran Dilepas ke Pasar Global, Ini Dampaknya Terhadap Harga Minyak Dunia
Ia mencontohkan harga batu bara yang pernah melampaui 400 Dolar AS per ton pada 2022 kemudian turun tajam akibat melemahnya permintaan global.
Selain perdagangan, risiko juga datang dari sektor keuangan melalui capital outflow yang dapat melemahkan rupiah, meningkatkan biaya pinjaman, serta memicu volatilitas pasar saham domestik.
Konsumsi Domestik Jadi Penopang Utama Ketahanan Ekonomi Nasional Indonesia
Indonesia memiliki kekuatan struktural karena konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 52 hingga 55 persen produk domestik bruto nasional.
Baca Juga: Langkah Unik Papua Nugini Kurangi Konsumsi BBM Lewat WFH Rabu, Ini Dampak Ekonominya Bagi Industri
Dr. Aswin Rivai mengatakan selama daya beli masyarakat tetap terjaga maka ekonomi domestik memiliki bantalan kuat menghadapi tekanan eksternal.
Ia menambahkan rasio utang pemerintah sekitar 38 hingga 40 persen terhadap PDB masih relatif terkendali dibanding banyak negara lain.
Defisit fiskal juga kembali dijaga di bawah tiga persen setelah pandemi Covid-19 sehingga memberikan ruang stimulus jika perlambatan global terjadi.
Baca Juga: Polda Sumut Ungkap Modus Dugaan Fraud Dana Jemaat Rp28 Miliar, Mantan Kepala Kas BNI Jadi Tersangka
Strategi Pemerintah Mengantisipasi Risiko Perlambatan Ekonomi Global Secara Terukur Berkelanjutan
Menurut Dr. Aswin Rivai, pemerintah perlu menjaga defisit fiskal tetap terkendali namun fleksibel dalam merespons potensi krisis global.
Ia menyarankan reformasi subsidi energi melalui penyaluran tepat sasaran serta mekanisme penyesuaian otomatis untuk mengurangi tekanan fiskal saat harga minyak meningkat.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi valas, kebijakan suku bunga terukur, serta pendalaman pasar keuangan.
Selain itu, hilirisasi industri, diversifikasi ekspor, perlindungan daya beli, serta investasi pendidikan dan teknologi menjadi kunci ketahanan ekonomi jangka panjang.
Artikel Terkait
Papua Nugini Uji Coba 4 Hari Kerja untuk Efisiensi BBM dan Stabilitas Fiskal Negara Berkembang Modern
Langkah Unik Papua Nugini Kurangi Konsumsi BBM Lewat WFH Rabu, Ini Dampak Ekonominya Bagi Industri
Dugaan Penggelapan Dana Jemaat Gereja Rp28 Miliar, Oknum BNI Kabur ke Australia Jadi Buronan Interpol
Polda Sumut Ungkap Modus Dugaan Fraud Dana Jemaat Rp28 Miliar, Mantan Kepala Kas BNI Jadi Tersangka
Penertiban PETI Mandailing Natal Berlanjut, Polisi Sita Ekskavator dan Selidiki Pemodal Tambang Emas Tanpa Izin
Tambang Emas Ilegal Sumut Digerebek, 17 Tersangka Ditangkap, Aparat Fokus Usut Aktor Intelektual Kasus PETI
140 Juta Barel Minyak Iran Dilepas ke Pasar Global, Ini Dampaknya Terhadap Harga Minyak Dunia
Produksi Batu Bara Naik, Jaga Pasokan Energi Dalam Negeri dan Peluang Ekspor Saat Harga Tinggi
Mengapa Saudi Aramco Kurangi Pasokan Minyak ke Asia Saat Permintaan Energi Mulai Pulih Kembali
Dampak Kebijakan Energi Filipina Terhadap Harga BBM Inflasi Transportasi dan Ketahanan Energi Nasional