NEWS SUMMARY:
- Prabowo tegaskan presiden modern harus responsif layaknya CEO negara dalam menyelesaikan hambatan investasi secara cepat dan terukur.
- Satgas de bottlenecking investasi disiapkan untuk menjamin kemudahan berusaha dan meningkatkan kepercayaan investor global terhadap Indonesia.
- Presiden ajak korporasi Jepang manfaatkan momentum kerja sama ekonomi di tengah kompetisi investasi internasional semakin ketat.
BISNIS24JAM.COM - Mengapa Presiden Prabowo membuka akses pengaduan langsung bagi investor Jepang dalam forum bisnis internasional?
Apakah langkah diplomasi ekonomi ini menjadi strategi baru Indonesia memenangkan persaingan investasi global?
Presiden RI Prabowo Subianto, menegaskan pendekatan diplomasi ekonomi aktif untuk memperkuat kepercayaan investor Jepang terhadap stabilitas investasi Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Business Forum Indonesia–Jepang di Tokyo, Senin (30/03/2026), yang mempertemukan pemerintah dengan pelaku usaha Jepang.
Presiden menekankan kepastian hukum, efisiensi birokrasi, dan kecepatan kebijakan menjadi kunci utama menarik investasi berkualitas.
Diplomasi Ekonomi Indonesia Jepang Perkuat Kepercayaan Investor Melalui Kepastian Hukum
Prabowo Subianto menegaskan pemerintah menjamin kepastian hukum sebagai faktor utama meningkatkan daya tarik investasi Indonesia.
Baca Juga: Aturan Terbaru WFH ASN Tunggu Pengumuman Resmi, Ini Target Hemat Energi dan Belanja Negara
Ia menyatakan pemerintah berkomitmen menciptakan lingkungan usaha transparan dan responsif terhadap kebutuhan investor asing.
Prabowo juga menegaskan stabilitas regulasi penting untuk menjaga kepercayaan investor jangka panjang.
Kepemimpinan Responsif Presiden Jadi Sinyal Positif Bagi Pelaku Investasi Global
Presiden Prabowo menyampaikan dirinya siap menerima laporan langsung terkait hambatan investasi sebagai bentuk kepemimpinan responsif.
Baca Juga: Pasar Global Bereaksi Positif Atas Jeda Konflik Iran, Investor Pantau Arah Negosiasi AS Berikutnya
Ia menyebut presiden modern harus mampu bertindak cepat seperti pimpinan korporasi dalam menyelesaikan masalah operasional.