BISNIS24JAMNEWS.COM - Apakah Indonesia siap jadi pangkalan galangan kapal listrik sekaligus pusat obat Rusia?
Pemerintah Indonesia menjajaki kerja sama strategis dengan Sistema Group, salah satu konglomerasi terbesar di Rusia, dalam sektor kesehatan.
Untuk memproduksi obat-obatan bersama Bio Farma dan Kimia Farma di Bandung.
Baca Juga: Apakah Target Pertumbuhan 5,4 Persen 2026 Realistis? INDEF Ungkap Ketimpangan dan Tantangan
Rosan Roeslani, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, menyatakan harapan kerja sama ini bisa menekan harga obat di dalam negeri yang selama ini dinilai relatif tinggi.
Sistema sendiri memiliki jaringan lebih dari 160 rumah sakit di Rusia dan merupakan salah satu produsen obat berpatent terbesar di negara itu.
Industri Kapal Listrik: Transformasi Moda Laut
Tidak hanya di bidang farmasi, Sistema Group juga menunjukkan minat dalam transportasi ramah lingkungan.
Baca Juga: Transparansi 3 Audit Tambang: Sherly Tegaskan Tak Ada Konflik Kepentingan dari Saham Warisan
Mereka berencana membangun fasilitas manufaktur kapal listrik penumpang berkapasitas 100–200 orang di Indonesia.
Rencana ini sudah dalam pembicaraan awal, termasuk potensi kolaborasi dengan PT PAL (Persero) sebagai mitra lokal.
Pariwisata dan Pendidikan: Investasi Multisektor
Selain kesehatan dan transportasi, Sistema Group juga membuka peluang kerja sama.
Baca Juga: Pencekalan Kasus Pajak Selama 6 Bulan, Termasuk Dirut Djarum: Ini Implikasi Kasus Pajak 2016–2020
Terutama dalam hal pengelolaan berbagai hotel-hotel potensial di Indonesia.
Di ranah pendidikan, mereka berencana mengirim instruktur bahasa Rusia ke beberapa universitas di Indonesia, memperkuat hubungan akademik bilateral.
Status Awal: Belum Ada Nilai Investasi
Menurut Rosan, semua pembicaraan ini masih pada tahap penjajakan (early stage), sehingga nilai investasi belum ditetapkan secara resmi.
Artikel Terkait
Agenda Mediasi 30 Hari Warnai Sidang Perdana Cerai Marissa Anita Setelah 17 Tahun Pernikahan
Akuisisi Emway Perkuat Ekspansi BABY, Integrasi 40.000 Titik Distribusi dan Ritel Bayi-Anak
Bitcoin ke 89.000 Dolar AS, Apa Dampak Arus Keluar 170.000 BTC dari ETF AS Terhadap Sentimen Pasar?
Temuan Konflik Tambang Nikel dan Darurat Tata Kelola di Maluku Utara yang Memicu Pertanyaan Publik
Boy Thohir Tambah 3,14 Juta Saham TRIM, Perkuat Kepemilikan Senilai Rp1,72 Triliun
Fakta Penting Setelah Wafatnya Dirut Bank BJB Yusuf Saadudin dan Dampaknya pada Stabilitas Emiten Terbuka
Curah Hujan Tinggi, Pemantauan PT Vale Perkuat Upaya Mitigasi pada Tahap Konstruksi Proyek Pomalaa
Pencekalan Kasus Pajak Selama 6 Bulan, Termasuk Dirut Djarum: Ini Implikasi Kasus Pajak 2016–2020
Transparansi 3 Audit Tambang: Sherly Tegaskan Tak Ada Konflik Kepentingan dari Saham Warisan
Apakah Target Pertumbuhan 5,4 Persen 2026 Realistis? INDEF Ungkap Ketimpangan dan Tantangan