BISNIS24JAM.COM - Apakah penurunan tajam saham yang terjadi akhir-akhir ini benar mencerminkan fundamental perusahaan yang melemah? Atau ini justru momentum koreksi pasar yang sehat setelah valuasi terlalu tinggi?
Bagaimana respons investor institusi termasuk Danantara terhadap tekanan pasar saham yang mengakibatkan IHSG anjlok, dan apa artinya bagi strategi investasi jangka panjang?
Danantara Menilai Penurunan Saham Sebagai Koreksi Alami, Bukan Kepanikan Pasar
Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), Pandu Sjahrir menanggapi soal penurunan harga saham.
Baca Juga: Rating Indonesia Dipangkas Nomura Setelah Goldman Sachs Dan UBS, IHSG Tertekan Hingga 8 Persen
Ìa menilai gejolak penurunan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai bagian dari koreksi pasar yang wajar, bukan tanda kepanikan investor, menyusul penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Penurunan signifikan tersebut, menurut Pandu, terutama dialami oleh saham-saham yang sebelumnya memiliki valuasi sangat tinggi atau overvalued.
Sehingga harganya menyesuaikan menuju nilai “layak investasi” yang didukung fundamental kuat perusahaan.
Baca Juga: Kementerian ESDM Siapkan 313 Wilayah Pertambangan pada 2026 untuk Legalisasi Tambang Rakyat
“Saham-saham dengan valuasi yang tidak didukung oleh fundamental yang kuat cenderung mengalami koreksi lebih dalam,” ujar Pandu di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/2/2026), saat IHSG kembali melemah setelah sempat rebound.
Penurunan Harga Tidak Merata, Blue Chip “Naik Performa”
Pengamatan Danantara menunjukkan bahwa sementara saham bervaluasi tinggi turun, saham blue chip dan berfundamental kuat justru menarik minat beli institusi dan asing di pasar modal.
Hal ini mencerminkan peralihan fokus dari spekulasi jangka pendek ke penilaian atas kualitas bisnis jangka panjang.
Baca Juga: 190 Negara Anggota Interpol, Indonesia Deteksi Muhammad Riza Chalid dan Siapkan Proses Hukum
Data BEI mencatat bahwa saham seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan pergerakan positif di tengah tekanan pasar, mendukung pandangan bahwa mekanisme pasar sedang memperbaiki diri.
Strategi Danantara: Fokus Fundamental dan Partisipasi Aktif Pasar
Pandu menegaskan bahwa Danantara tidak melihat penurunan saham sebagai kekhawatiran ekstrem, tetapi sebagai peluang untuk kembali melihat nilai fundamental emiten.
Artikel Terkait
Red Notice Interpol Atas Riza Chalid Terbit, Polri Kejar Tersangka Korupsi Migas Bernilai Rp285 Triliun
MSCI Warning Indonesia, IHSG Melemah, Beban Bunga Utang 26 Persen Tekan Kepercayaan Pasar
Rosan Roeslani Bantah Isu Ganti Direksi Empat Bank BUMN, Soroti Stabilitas Perbankan Nasional
Ray Dalio Nilai Utang Amerika Serikat 38 Triliun Dolar AS Uji Ketahanan Sistem Keuangan Dunia
Fokus Hilirisasi dan Energi Terbarukan, Danantara Incar Saham Strategis Nasional Tahun 2026
ESDM Perluas Tambang Rakyat Legal, 313 Wilayah Pertambangan Rakyat Disiapkan Tahun 2026
Setelah 10 Tahun, Interpol Lacak Muhammad Riza Chalid di Luar Negeri, Polri Buka Opsi Ekstradisi
Jelang Ramadan 2026, Harga Daging Sapi Bertahan Rp135.000 Per Kilogram, Pasokan RPH Lancar
Nomura Turunkan Rating Saham Indonesia ke Netral, MSCI Ingatkan Risiko Status Pasar Pada Mei 2026
UBS Dan JP Morgan Soroti Risiko Regulasi dari Rencana Pengalihan Tambang Emas Martabe ke BUMN