energi

Harga Energi Global Naik, DPR Nilai Subsidi BBM Masih Penting Jaga Ekonomi Dan Daya Beli

Senin, 13 April 2026 | 22:00 WIB
Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI dari Fraksi Gerindra, Wihadi Wijanto. Wacana kenaikan harga BBM memicu kekhawatiran daya beli masyarakat. (Dok. fraksigerindra.id)

NEWS SUMMARY:

  • DPR menilai usulan kenaikan BBM dapat memperburuk kondisi ekonomi masyarakat dan menghambat pertumbuhan nasional
  • Pemerintah memilih menjaga harga energi melalui strategi refocusing anggaran dan efisiensi belanja non prioritas
  • APBN diposisikan sebagai shock absorber untuk meredam dampak gejolak harga energi global terhadap masyarakat

BISNIS24JAM.COM - Apakah kenaikan harga BBM benar-benar solusi untuk menjaga kesehatan APBN di tengah tekanan global saat ini?

Atau justru kebijakan tersebut berisiko menekan daya beli masyarakat dan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional?

Debat Kebijakan Energi Picu Kekhawatiran Daya Beli Masyarakat Melemah

Perdebatan soal kenaikan harga BBM kembali mencuat setelah usulan dari Jusuf Kalla mendapat respons kritis dari DPR.

Baca Juga: Pemerintah Imbau Publik Tak Percaya Isu Chaos, Stabilitas Nasional Disebut Tetap Aman dan Kondusif

Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI dari Fraksi Gerindra, Wihadi Wijanto, menilai kebijakan menaikkan harga BBM berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Menurut Wihadi, dalam keterangannya pada Jumat (10/04/2026), APBN saat ini masih cukup kuat untuk meredam tekanan global tanpa harus menaikkan harga energi.

Ia menegaskan bahwa APBN bukan sekadar instrumen fiskal, tetapi juga berfungsi sebagai peredam gejolak ekonomi eksternal.

Baca Juga: Distribusi Gizi Nasional Butuh Motor Listrik, Ini Penjelasan Pemerintah Soal Program MBG Terbaru

Kondisi APBN Dinilai Masih Kuat Hadapi Tekanan Global

Wihadi menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga dengan indikator makro yang relatif stabil.

Inflasi tercatat 3,48 persen pada Maret 2026, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 mencapai 5,39 persen.

Selain itu, indeks PMI manufaktur masih berada di zona ekspansif, yang mencerminkan aktivitas industri tetap tumbuh.

Baca Juga: Langkah Tegas Prabowo Selamatkan Aset Negara Dan Berantas Praktik Ilegal Jadi Sorotan Publik Dan Pelaku Usaha

Pendapatan negara hingga Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan.

Halaman:

Tags

Terkini