NEWS SUMMARY:
- Proyeksi ekonomi Indonesia tetap resilien di tengah tekanan global meskipun angka pertumbuhan diperkirakan sedikit menurun.
- Perbedaan asumsi belanja negara dan efektivitas transformasi industri memengaruhi perbedaan proyeksi lembaga global.
- Strategi hilirisasi dan pembangunan infrastruktur menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional jangka menengah.
BISNIS24JAM.COM - Seberapa kuat daya tahan ekonomi Indonesia menghadapi perlambatan global hingga 2026?
Mampukah strategi hilirisasi dan konsumsi domestik menjaga pertumbuhan tetap kompetitif di tengah tekanan eksternal?
Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tetap Tumbuh Stabil di Tengah Tekanan Global
Laporan OECD Economic Outlook menunjukkan Indonesia tetap mencatat pertumbuhan positif sekitar 4,8 persen pada 2026 meskipun ekonomi global diperkirakan melambat.
Angka tersebut menunjukkan resiliensi ekonomi nasional dibanding banyak negara berkembang lain yang menghadapi tekanan perlambatan perdagangan dan investasi global.
Clare Lombardelli Chief Economist OECD menyebut stabilitas pertumbuhan Indonesia ditopang fundamental domestik yang relatif kuat dibanding beberapa negara regional.
Fundamental Konsumsi Domestik Masih Menjadi Penopang Utama Aktivitas Ekonomi Nasional
Struktur ekonomi Indonesia yang bertumpu pada konsumsi domestik dinilai menjadi bantalan utama dalam menghadapi risiko perlambatan perdagangan global.
OECD menilai permintaan domestik tetap menjadi kekuatan utama meskipun mengalami moderasi setelah periode lonjakan konsumsi pada masa pemulihan pandemi.
Clare Lombardelli menyatakan kekuatan pasar domestik memberikan ruang stabilitas bagi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Tantangan Eksternal dari Perlambatan Tiongkok Perlu Diantisipasi Sejak Dini
Lembaga internasional juga menyoroti risiko perlambatan ekonomi Tiongkok sebagai mitra dagang utama yang dapat memengaruhi kinerja ekspor Indonesia.
Baca Juga: Dari Makan Bergizi Gratis hingga Motor Listrik, Ini Peta Jalan Transformasi Era Prabowo Lima Tahun
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena permintaan komoditas global sangat berkaitan dengan aktivitas industri dan konstruksi di negara tersebut.