• Sabtu, 18 April 2026

Apakah Target Pertumbuhan 5,4 Persen 2026 Realistis? INDEF Ungkap Ketimpangan dan Tantangan

Photo Author
Budi Purnomo, Bisnis 24 Jam
- Sabtu, 22 November 2025 | 09:21 WIB
Diskusi panel INDEF menghadirkan data baru terkait daya beli, kemiskinan, dan strategi pemerataan untuk menata ulang arah ekonomi Indonesia. (Instagram.com @cakiminow)
Diskusi panel INDEF menghadirkan data baru terkait daya beli, kemiskinan, dan strategi pemerataan untuk menata ulang arah ekonomi Indonesia. (Instagram.com @cakiminow)

Realitas Konsumsi dan Keyakinan Masyarakat

Eisha M. Rachbini, Direktur Program INDEF, memaparkan hasil riset yang menunjukkan daya beli masyarakat belum membaik.

Baca Juga: Fakta Penting Setelah Wafatnya Dirut Bank BJB Yusuf Saadudin dan Dampaknya pada Stabilitas Emiten Terbuka

Konsumsi rumah tangga selama delapan kuartal terakhir masih tumbuh di bawah PDB.

Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen stagnan di sekitar angka 100, menandakan optimisme masyarakat terhadap pendapatan ke depan sangat tipis.

Target Makro dan Risiko Global

Rencana APBN 2026 mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 %, inflasi 2,5 %, dan nilai tukar Rupiah di kisaran Rp 16.500 per USD.

Baca Juga: Boy Thohir Tambah 3,14 Juta Saham TRIM, Perkuat Kepemilikan Senilai Rp1,72 Triliun

Namun, menurut Eko Listyanto, Direktur Big Data INDEF, target ini terlalu optimistis.

Data riil seperti konsumsi, investasi, dan ekuitas eksternal menunjukkan ketidakpastian yang signifikan.

Menyuntikkan Modal ke Sektor Produktif

Menurut Aviliani, Ekonom Senior INDEF, pembiayaan sektor riil tetap didominasi perbankan, meski ada kontribusi dari pasar modal dan multifinance.

Baca Juga: Temuan Konflik Tambang Nikel dan Darurat Tata Kelola di Maluku Utara yang Memicu Pertanyaan Publik

Ia menyoroti bahwa sektor pariwisata potensial untuk menjadi mesin pertumbuhan cepat.

Terutama jika ekosistem lokal (seperti diskon tiket dan infrastruktur) diperkuat.

Paradigma Keadilan Ekonomi dari Tiga Model

Didin S. Damanhuri, ekonom INDEF, menawarkan kerangka “growth through equity” sebagai solusi.

Baca Juga: Bitcoin ke 89.000 Dolar AS, Apa Dampak Arus Keluar 170.000 BTC dari ETF AS Terhadap Sentimen Pasar?

Pertumbuhan harus merata dan benar-benar sampai ke lapisan bawah masyarakat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X