• Sabtu, 18 April 2026

Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen Dipertanyakan, Kelas Menengah Indonesia Susut 9,48 Juta Orang

Photo Author
Tim 24 Jam News, Bisnis 24 Jam
- Senin, 19 Januari 2026 | 08:13 WIB
Ilustrasi, Pertumbuhan ekonomi pascapandemi diklaim solid, namun data statistik menunjukkan kesejahteraan masyarakat belum pulih merata. (Dok. Kreasi Dola AI)
Ilustrasi, Pertumbuhan ekonomi pascapandemi diklaim solid, namun data statistik menunjukkan kesejahteraan masyarakat belum pulih merata. (Dok. Kreasi Dola AI)

BISNIS24JAM.COM - Apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia benar-benar terjadi ketika jutaan warga justru kehilangan status kelas menengah?

Bagaimana mungkin ekonomi diklaim tumbuh hampir 5 persen, tetapi kelompok rentan miskin justru bertambah drastis?

Klaim pemulihan ekonomi Indonesia pascapandemi kembali menjadi sorotan setelah data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penyusutan kelas menengah dan lonjakan penduduk rentan miskin.

Baca Juga: Pemprov Jawa Barat Siapkan Rp45 Miliar, 15.293 KK Bogor Terdampak Tambang Tunggu Pencairan

Fenomena ini memicu pertanyaan serius mengenai validitas pertumbuhan ekonomi nasional periode 2021–2024.

Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), menilai kondisi tersebut sebagai anomali ekonomi yang sulit diterima secara statistik.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi sehat semestinya sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Baca Juga: PT Kapuas Prima Coal Temukan Indikasi Emas di Kalimantan Tengah, Biaya Eksplorasi Rp421 Juta

Pertumbuhan Ekonomi dan Kontradiksi Data Sosial Nasional

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata 4,77 persen sepanjang 2021–2024, bahkan melampaui 5 persen pada 2022–2024.

Namun, pada periode 2019–2024, jumlah penduduk kelas menengah justru turun 9,48 juta orang.

Pada saat bersamaan, jumlah penduduk rentan miskin meningkat sekitar 12,7 juta orang menurut data resmi BPS.

Baca Juga: Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara: KPK Selidiki Aliran Dana hingga Kantor Pusat DJP

Anthony Budiawan menyebut kombinasi tersebut sebagai kontradiksi fundamental dalam teori pertumbuhan ekonomi.

“Jika ekonomi benar-benar tumbuh 5 persen, hampir mustahil kesejahteraan masyarakat memburuk secara masif,” ujar Anthony Budiawan dalam keterangannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X