BISNIS24JAM.COM - Mengapa alat berat proyek PLTP bisa kembali beroperasi meski telah disegel warga di lereng Gunung Gede Pangrango?
Apakah pelanggaran kesepakatan ini menjadi pemicu memburuknya kepercayaan publik terhadap proyek energi panas bumi?
Ratusan warga Kampung Pasir Cina, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Cianjur, mengusir alat berat proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi pada Rabu, 14 Januari 2026, setelah segel warga dilanggar.
Baca Juga: JPMorgan Borong Saham BRPT dan CUAN, Sinyal Positif Pasar Modal Indonesia di Awal Tahun 2025
Warga Segel Alat Berat Karena Kesepakatan Dinilai Dilanggar
Warga menyegel alat berat sejak Minggu, 11 Januari 2026, sebagai bentuk penolakan terhadap aktivitas pelebaran jalan proyek PLTP di lereng Gunung Gede Pangrango.
Penyegelan dilakukan setelah warga menilai belum ada kesepakatan sosial dan lingkungan yang jelas antara masyarakat dengan pengembang proyek geothermal.
Namun, alat berat tersebut kembali beroperasi secara diam-diam sehingga memicu kemarahan warga yang merasa kesepakatan bersama diabaikan.
Baca Juga: IATA Catat Produksi Batu Bara 3,56 Juta MT di 2025, Target 2026 Melonjak ke 7,85 Juta MT
Kronologi Aksi Pengusiran Alat Berat di Kampung Pasir Cina
Aksi bermula saat warga berunjuk rasa dan hendak melakukan audiensi ke Kantor Desa Cipendawa pada Rabu pagi.
Di tengah aksi, warga mendapat informasi bahwa alat berat kembali beroperasi sehingga massa bergerak menuju lokasi dan mengepung alat tersebut.
Perdebatan berlangsung selama beberapa jam hingga alat berat dipaksa keluar dari pemukiman dengan pengawalan aparat kepolisian dan TNI.
Baca Juga: Hilirisasi Bauksit dan Proyek SGAR Didorong Tekan Impor Aluminium yang Masih Mencapai 54 Persen
Warga Kawal Alat Berat Hingga Benar-Benar Turun Lokasi
Setelah alat berat keluar dari kampung, warga tidak langsung membubarkan diri dan memilih membuntuti kendaraan tersebut.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan alat berat benar-benar diturunkan dan tidak kembali memasuki kawasan pemukiman.
Artikel Terkait
Peringkat BBB Fitch Ratings untuk Obligasi Indonesia, Apa Dampaknya bagi Investor Global?
Rugi 20,1 Juta Dolar AS pada 2023, Pelita Air Service Disorot soal Remunerasi Manajemen
Ekonomi Lokal Lumpuh: Dampak Penutupan Tambang Rakyat Cigudeg bagi Ribuan Pekerja
Saat Banjir Belum Surut, Wapres Gibran Dengar Langsung Kritik Mahasiswa Soal Kerusakan Lingkungan
Restrukturisasi Jangka Panjang Terus Berlanjut, Citigroup Kurangi Ribuan Tenaga Kerja
Pajak Tahun 2026 Ditargetkan Melonjak 23 Persen, Apindo Nilai Ruang Fiskal Kian Terbatas
Timothy Ronald Dilaporkan Terkait Dugaan Penipuan Kripto, Korban Didominasi Usia 18–27 Tahun
Hilirisasi Bauksit: Harga Bijih 40 Dolar AS Berubah Menjadi Aluminium Bernilai 2.900 per Dolar AS Ton
Produksi Batu Bara IATA Tembus 3,56 Juta MT pada 2025, Siap Gaspol 179% di 2026
Akumulasi Saham Barito oleh BlackRock hingga Dimensional Terungkap dalam Pembelian Saham