NEWS SUMMARY:
- Tambang emas Aceh telah berkembang sejak era Kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, hingga Aceh Darussalam sebagai pusat perdagangan emas global Asia.
- Sejarah mencatat emas urai menjadi sumber kedaulatan ekonomi Aceh sebelum kolonialisme mengubah pengelolaan tambang menjadi eksploitasi industri.
- Warisan sejarah tambang emas Aceh kembali relevan di tengah meningkatnya aktivitas tambang ilegal dan perdebatan tata kelola sumber daya alam modern.
BISNIS24JAM.COM - Mengapa Aceh sejak ratusan tahun lalu dikenal sebagai negeri emas di jalur perdagangan dunia?
Mengapa kekayaan emas yang dahulu menjadi simbol kedaulatan kesultanan kini justru memicu persoalan tambang ilegal dan kebocoran ekonomi daerah?
Sejarah Tambang Emas Aceh Bermula dari Perdagangan Global Dunia
Tambang emas di Aceh bukan fenomena baru karena catatan sejarah menunjukkan aktivitas penambangan sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Peureulak, Samudera Pasai, dan Aceh Darussalam.
Baca Juga: Pertamina Siaga Ramadan dan Idulfitri 2026, Pasokan Energi Dipastikan Aman untuk Pemudik
Dalam buku Tarich Atjeh dan Nusantara karya H.M. Zainuddin tahun 1961 disebutkan wilayah Peureulak memiliki sungai mengandung emas yang dikenal bangsa Persia sebagai kawasan tambang penting.
Emas urai ditambang secara tradisional di sepanjang aliran sungai dan menjadi komoditas utama perdagangan internasional Aceh pada jalur Timur-Barat abad pertengahan.
Para pedagang Persia, Arab, Yunani, serta Tiongkok membawa teknologi pengolahan emas sekaligus memperkuat posisi Aceh sebagai simpul perdagangan maritim global.
Baca Juga: Presiden Prabowo Disambut Putra Mahkota Yordania dan Jet Tempur F16, Diplomasi Indonesia Makin Aktif
H.M. Zainuddin, penulis Tarich Atjeh dan Nusantara, menyatakan bahwa masyarakat lokal mempelajari teknik pengolahan emas dari para sarjana Persia yang mengajarkan metode pengayakan emas sungai.
Peran Kesultanan Aceh Mengelola Tambang Sebagai Sumber Kedaulatan Ekonomi
Kerajaan Samudera Pasai mencatat tonggak penting ketika Sultan Malikussaleh mulai mencetak derham emas sebagai alat tukar resmi kerajaan pada abad ke-13.
Penggunaan mata uang emas menandakan Aceh memiliki cadangan logam mulia cukup besar dibanding kerajaan lain yang masih menggunakan kulit atau timah sebagai alat transaksi.
Tambang emas di hulu Sungai Pasai dan kawasan Krueng Meuh berkembang pesat hingga menjadi sumber pendapatan kerajaan dan memperkuat jaringan dagang regional.
Artikel Terkait
Impor 105 Ribu Pick Up India Dipersoalkan, Soroti Arah Industrialisasi dan Masa Depan Industri Otomotif
Stimulus Likuiditas Berlanjut, Penempatan Dana Rp200 Triliun untuk Dorong Kredit Tumbuh Double Digit
Rencana Impor Kendaraan Kopdes Tunggu Arahan Presiden, Pemerintah Hitung Dampak Ekonomi
Investasi Panas Bumi Indonesia Kembali Disorot Usai Ormat Menang Lelang WKP Telaga Ranu Halmahera Barat
Jejak Tambang Emas Bogor Dari Pajajaran Hingga Pongkor Modern Dan Masa Depan Ekonomi Mineral Jawa Barat
Polemik PHK Mie Sedaap Gresik Jelang Lebaran Ungkap Kerentanan Pekerja Outsourcing Industri Manufaktur
Jet Tempur F16 Sambut Prabowo di Amman, Apa Makna Diplomasi Indonesia dengan Kerajaan Yordania
Mengenal Ormat Technologies. Sejarah Afiliasi Israel dan Struktur Kepemilikan Global dalam Bisnis Energi
Kesepakatan Dagang Indonesia - AS Bernilai 33 Miliar Dolar AS Picu Perubahan Strategi Perdagangan Global
Kesiapan Pertamina Hadapi Mudik Lebaran Fokus Pada Pasokan BBM Stabil dan Kenyamanan Perjalanan