energi

Mengungkap Sejarah Tambang Emas Aceh, Warisan Ekonomi Kesultanan yang Relevan Bagi Masa Kini

Kamis, 26 Februari 2026 | 15:50 WIB
Ilustasi tambang emas tradisional. Kawasan Geumpang di Pidie dikenal dalam sejarah sebagai pusat tambang emas penting Aceh pada masa Sultanah Tajul Alam Syafiatuddin Syah. (Dok. Kreasi Dola AI)

NEWS SUMMARY:

  • Tambang emas Aceh telah berkembang sejak era Kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, hingga Aceh Darussalam sebagai pusat perdagangan emas global Asia.
  • Sejarah mencatat emas urai menjadi sumber kedaulatan ekonomi Aceh sebelum kolonialisme mengubah pengelolaan tambang menjadi eksploitasi industri.
  • Warisan sejarah tambang emas Aceh kembali relevan di tengah meningkatnya aktivitas tambang ilegal dan perdebatan tata kelola sumber daya alam modern.

BISNIS24JAM.COM - Mengapa Aceh sejak ratusan tahun lalu dikenal sebagai negeri emas di jalur perdagangan dunia?

Mengapa kekayaan emas yang dahulu menjadi simbol kedaulatan kesultanan kini justru memicu persoalan tambang ilegal dan kebocoran ekonomi daerah?

Sejarah Tambang Emas Aceh Bermula dari Perdagangan Global Dunia

Tambang emas di Aceh bukan fenomena baru karena catatan sejarah menunjukkan aktivitas penambangan sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Peureulak, Samudera Pasai, dan Aceh Darussalam.

Baca Juga: Pertamina Siaga Ramadan dan Idulfitri 2026, Pasokan Energi Dipastikan Aman untuk Pemudik

Dalam buku Tarich Atjeh dan Nusantara karya H.M. Zainuddin tahun 1961 disebutkan wilayah Peureulak memiliki sungai mengandung emas yang dikenal bangsa Persia sebagai kawasan tambang penting.

Emas urai ditambang secara tradisional di sepanjang aliran sungai dan menjadi komoditas utama perdagangan internasional Aceh pada jalur Timur-Barat abad pertengahan.

Para pedagang Persia, Arab, Yunani, serta Tiongkok membawa teknologi pengolahan emas sekaligus memperkuat posisi Aceh sebagai simpul perdagangan maritim global.

Baca Juga: Presiden Prabowo Disambut Putra Mahkota Yordania dan Jet Tempur F16, Diplomasi Indonesia Makin Aktif

H.M. Zainuddin, penulis Tarich Atjeh dan Nusantara, menyatakan bahwa masyarakat lokal mempelajari teknik pengolahan emas dari para sarjana Persia yang mengajarkan metode pengayakan emas sungai.

Peran Kesultanan Aceh Mengelola Tambang Sebagai Sumber Kedaulatan Ekonomi

Kerajaan Samudera Pasai mencatat tonggak penting ketika Sultan Malikussaleh mulai mencetak derham emas sebagai alat tukar resmi kerajaan pada abad ke-13.

Penggunaan mata uang emas menandakan Aceh memiliki cadangan logam mulia cukup besar dibanding kerajaan lain yang masih menggunakan kulit atau timah sebagai alat transaksi.

Baca Juga: Ormat Technologies dari Israel ke Korporasi Energi Global, Inilah Sang Pengendali Industri Panas Bumi

Tambang emas di hulu Sungai Pasai dan kawasan Krueng Meuh berkembang pesat hingga menjadi sumber pendapatan kerajaan dan memperkuat jaringan dagang regional.

Halaman:

Tags

Terkini