BISNIS24JAM.COM - Apakah bencana yang berulang di Tapanuli benar-benar sekadar cuaca ekstrem?
Atau ada kerusakan ekologis yang selama ini luput dari perhatian publik?
Sehingga akhirnya memicu pertanyaan besar tentang masa depan Ekosistem Batang ToruBaca Juga: Sorotan Baru: Pernyataan Pejabat Pemerintah Picu Perdebatan Status Bandara Khusus IMIP
Aktivitas Ekstraktif Korporasi Dinilai Memicu Gangguan Ekosistem
WALHI Sumatera Utara menilai pembukaan lahan oleh tujuh korporasi di kawasan Harangan Tapanuli menyebabkan hilangnya tutupan hutan yang berfungsi mengatur hidrologi alami kawasan Batang Toru.
WALHI Sumut menyebut kawasan Harangan Tapanuli mengalami penurunan daya tampung air karena pembangunan infrastruktur ekstraktif seperti tambang, PLTA, PLTMH, geothermal, dan perkebunan sawit.
Dalam pernyataan resmi, WALHI Sumut menduga perubahan bentang alam di area sensitif ini memicu risiko banjir bandang dan longsor yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir.Baca Juga: Negosiasi 25–30 Persen Saham Lotte Chemical Indonesia Masuki Tahap Uji Tuntas Danantara
Tujuh Korporasi yang Disebut Beroperasi di Kawasan Kritis
WALHI Sumut menyebut beberapa korporasi diduga berkontribusi terhadap perubahan bentang alam, yakni:
1. Agincourt Resources
2. PT North Sumatera Hydro Energy.
3. PT Pahae Julu Micro-Hydro Power.
4. PT SOL Geothermal Indonesia
5. PT Toba Pulp Lestari Tbk
6. PT Sago Nauli Plantation7. PTPN III Batang Toru Estate.
Baca Juga: Alasan Syuriyah Menegaskan Keputusan Final Pemberhentian Ketum PBNU Gus Yahya
Korporasi tersebut bergerak pada tambang emas, pembangkit listrik tenaga air, mikrohidro, geothermal, perkebunan kayu rakyat, dan perkebunan sawit.
Mereka beroperasi yang mencakup penambangan, konstruksi, penggalian fondasi bendungan, jalan akses, dan ekspansi perkebunan sawit berpotensi memperbesar kerentanan tanah terhadap erosi.
WALHI Sumut menegaskan semua analisis dilakukan berbasis laporan lapangan, citra satelit, serta dokumentasi masyarakat setempat terkait perubahan kontur area hutan.
Baca Juga: 6 Kriteria Saham Incaran Danantara Indonesia, Fokus Fundamental dan Hindari Risiko Tinggi di BEI
Artikel Terkait
IHSG Cetak Rekor Baru 8.602: Data Penguatan 0,94 Persen dan Respons Menkeu Undang Penasaran
Jejak 4 Transaksi Besar Rp100 M di Rekening PBNU, Dokumen Audit Pengaruhi Evaluasi Gus Yahya
Target Pajak Baru Tercapai 70 Persen, Pernyataan Purbaya Soal Pajak DPR Picu Perdebatan Komisi XI
Kasus Tumbler Rp300 Ribu yang Viral: Dampak Nyata terhadap Petugas Lini Depan dan Reaksi Publik
Tensi PBNU Meningkat: Ini Alasan Syuriyah Ajukan Desakan Mundur dan Respons Resmi Gus Yahya
Penggeledahan di 8 Lokasi: Kejagung Dalami Dugaan Korupsi Pajak 2016–2020 yang Seret Dirut PT Djarum
Alasan Syuriyah Menegaskan Keputusan Final Pemberhentian Ketum PBNU Gus Yahya
6 Kriteria Saham Incaran Danantara Indonesia, Fokus Fundamental dan Hindari Risiko Tinggi di BEI
Sorotan Baru: Pernyataan Pejabat Pemerintah Picu Perdebatan Status Bandara Khusus IMIP
Negosiasi 25–30 Persen Saham Lotte Chemical Indonesia Masuki Tahap Uji Tuntas Danantara